Rabu, 23 Juli 2014

Tulisan Softskil 19 (semester 6)


Nabung Dapat Gadget vs Bunga Deposito

Bagi Anda yang kebetulan tinggal di daerah perkotaan, mungkin Anda sudah tidak asing dengan papan reklame yang menampilkan iklan sebuah bank bertajuk "Nabung Dapat Gadget" atau "Nabung Mulai dari Sekian Juta Bisa Bawa Pulang Gadget". Selidik punya selidik, ternyata ini adalah bagian dari strategi yang tengah gencar dikampanyekan oleh bank-bank kelas menengah di Indonesia untuk menghimpun dana dari nasabah-nasabah baru.

Produk tabungan dengan skema deposito saat ini sedang menjadi tren. Terbukti dengan tidak sedikit bank yang saling berlomba-lomba menawarkan skema paling menggiurkan guna mengamankan pasokan DPK-nya (Dana Pihak Ketiga).

Tidak dapat dipungkiri, krisis ekonomi yang sedang melanda global, tidak ubahnya bom waktu bagi dunia perbankan karena adanya ancaman kemungkinan paceklik likuiditas. Oleh karena itu, bank-bank harus terus memutar otak untuk tetap dapat mengamankan likuiditas-nya, salah satunya dengan penawaran program menabung disertai iming-iming hadiah langsung tanpa diundi.

Nabung Dapat Gadget tanpa diundi sebenarnya adalah kemasan lain dari produk deposito perbankan. Dengan skema tabungan ala deposito ini, bank sebenarnya lebih diuntungkan karena dana nasabah akan terkunci (lock up) selama beberapa tahun. Dibandingkan jika ditempatkan di deposito reguler, nasabah bisa beralih ke bank lain sewaktu-waktu. Bak gayung bersambut, ternyata strategi menukar bunga deposito dengan hadiah langsung seperti gadget, terbilang cukup ampuh menarik minat masyarakat kita.

Lalu seperti apa sebenarnya perbandingan antara program Nabung Dapat Gadget dengan program deposito reguler sendiri? Agar lebih jelas, perhatikan ilustrasi berikut (ilustrasi adalah contoh perhitungan riil yang diambil dari sebuah penawaran bank swasta di Indonesia) :

Sebuah bank menawarkan produk tabungan senilai Rp 30 juta dengan masa kuncian / lock up selama 4 tahun. Sebagai imbalannya, Anda sebagai nasabah berhak memperoleh sebuah Blackberry Dakota. Sebagai referensi, harga pasaran BlackBerry Dakota saat ini berkisar antara Rp 4,7 juta hingga Rp 5,3 juta.

Nabung Dapat Gadget

  • Bisa membawa pulang Blackberry Dakota lansung tanpa diundi.
  • Menyimpan uang Rp 30 juta selama 4 tahun akan sama dengan menghasilkan uang Rp 4,7 juta hingga Rp 5,3 juta, bukan dalam bentuk tunai, melainkan dalam bentuk perangkat elektronik yang nilainya terus menyusut.
  • Jika ada kebutuhan mendesak, tidak ada yang dapat dilakukan dengan simpanan Rp 30 juta tersebut karena sudah terikat perjanjian dengan pihak bank selama 4 tahun.
  • Kalaupun benar-benar terpaksa harus mencairkan tabungan lock up 4 tahun, maka akan dikenakan penalti / denda yang terbilang besar. Tergantung masa kontrak, semakin pendek usia tabungan, penalti / denda yang dikenakan juga semakin besar.
  • Penalti / denda yang harus dibayarkan nasabah kepada bank biasanya jauh lebih besar dari penalti / denda yang ada pada deposito reguler.

Nabung Bunga Deposito

  • Tidak ada hadiah langsung gadget yang bisa dibawa pulang.
  • Katakanlah bunga deposito yang ditetapkan oleh bank Anda saat ini adalah 5%. Menyimpan uang Rp 30 juta selama 4 tahun berarti sama dengan menghasilkan uang tunai senilai Rp 6 juta sebelum dipotong pajak. Setelah dikurangi pajak tabungan 20%, jumlah bersih yang dapat diterima adalah sebesar Rp 4,8 juta.
  • Jika terpaksa mencairkan rekening deposito sebelum waktu jatuh tempo, juga akan dikenai penalti / denda. Namun penalti / denda deposito reguler biasanya hanya berkisar 0,5% hingga 2%.
  • Jangka waktu / tenor deposito reguler dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Pemilihan tenor per bulan, per 3 bulan, per 12 bulan atau per 36 bulan sekalipun, Anda lah yang menentukan, bukan bank yang mengatur Anda.

Secara pribadi, saya lebih menyukai imbal hasil berupa bunga deposito dibandingkan hadiah langsung yang ditawarkan oleh program Nabung Dapat Gadget. Karena bagaimanapun, menghasilkan sejumlah uang tunai adalah lebih bijak jika dibandingkan menukarnya dengan sebuah perangkat elektronik yang terus menyusut nilainya. Terlebih jika pertimbangannya adalah untuk keperluan investasi.

Apa yang saya coba sampaikan di sini hanyalah sebuah opini pribadi, karenanya semua pilihan kembali pada masing-masing objektivitas penilaian Anda. Pastikan Anda telah memahami dengan baik seluk beluk resiko atas apapun pilihan yang Anda ambil. Selamat memilih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar